Kalau Semua Harus Sempurna, Hidup Bakal Penuh Draft yang Nggak Pernah Dikirim
Pernah nggak sih kamu ngerasa hidup itu seperti kotak pesan yang penuh draft?
Semua sudah ditulis setengah matang, sudah dirapikan dikit, niatnya mau dikirim… tapi pas mau pencet tombol “send”, eh kamu ragu lagi.
Terus disimpen. Terus diedit lagi. Terus nggak jadi dikirim.
Lucu ya. Kita tuh kadang ngira dunia lagi duduk sambil pegang clipboard, siap menilai setiap langkah kita pakai nilai angka.
Padahal kenyataannya… orang lain lagi sibuk juga dengan hidupnya masing-masing.
Banyak dari mereka bahkan nggak sempat mikirin apa yang kamu lakukan.
Tapi tetap saja, kita sering pengin semuanya tampak “sempurna” dari kata-kata, keputusan, sampai penampilan.
Kocaknya, justru perfeksionisme kayak gitu yang bikin kita mandek, padahal hidup nggak perlu serumit itu.
Kita Sering Ngira Harus “Fix” Dulu Baru Melangkah
Ada momen-momen di mana kita merasa harus sudah siap 100% dulu sebelum mulai.
Mau bikin konten, nunggu mood.
Mau ngobrol sama orang, nunggu percaya diri naik.
Mau mulai proyek, nunggu skill lengkap. Mau posting sesuatu, nunggu caption sempurna.
Kalau dipikirin lagi, hidup kita jadi kaya aplikasi yang nunggu update tapi sinyalnya 1 bar. Niatnya “biar optimal”, tapi hasil akhirnya malah “pending terus”.
Dan lucunya, hal-hal yang akhirnya berharga dalam hidup sering datang dari langkah-langkah yang nggak terlalu rapi, nggak terlalu ideal tapi dijalani.
Kayak tulisan ini.
Kalau saya nunggu semua kalimatnya sempurna dulu, mungkin kamu nggak bakal baca apa pun.
Karena saya masih bakal mondar-mandir, ngedit kata, ngehapus, nambah lagi, revisi, terus ragu-ragu sampai akhir zaman. Serem juga ya kalau dipikir.
Hidup Itu Bergerak, Bukan Dijadikan Draft
Kalau semua hal harus sempurna dulu, coba bayangin berapa banyak momen yang nggak jadi kamu ambil.
Berapa banyak “halo” yang nggak jadi dikirim.
Berapa banyak ide yang cuma mandek di kepala.
Berapa banyak perjalanan yang nggak jadi dimulai karena kamu nunggu “waktu yang tepat”.
Padahal waktu yang tepat jarang datang dengan banner besar bertuliskan: “INI SAATNYA!” Biasanya sih datangnya diam-diam, terus pergi diam-diam juga.
Yang tersisa cuma rasa nyesel dan “coba tadi aku mulai…”
Dan jujur, rasa nyesel karena nggak melakukan sesuatu itu jauh lebih ngganggu daripada rasa malu karena melakukan hal yang kurang sempurna.
Malu tuh cepat hilang, tapi penasaran? Awet. Kayak bekas stiker yang nempel di kaca mobil.
Kesempurnaan Itu Ilusi yang Bikin Capek
Kita hidup di dunia yang sering memuja hasil akhir.
Yang disorot itu yang menang, yang viral, yang rapi, yang kece, yang terlihat tanpa cela.
Padahal di balik semua itu, ada banyak momen kacau yang nggak diposting.
Ada salah ketik. Ada revisi sepuluh kali. Ada rencana yang berubah.
Ada ketidaksiapan yang dipaksa siap.
Tapi kita jarang lihat itu, dan karena itu kita jadi ngerasa “kok hidupku berantakan ya?”.
Padahal… semua orang juga berantakan, hanya mereka lebih jago menyembunyikannya.
Makanya kalau kamu nunggu sampai semuanya sempurna, sampai kamu yakin 100%, sampai kamu nggak salah sedikit pun, ya kamu bisa-bisa mati bosan sebelum benar-benar menjalani hidup.
Hidup itu bukan dokumen final dengan stempel resmi.
Hidup itu catatan harian yang isinya kadang kocak, kadang ngaco, kadang bikin marah, kadang bikin ngakak. Dan justru di situ serunya.
Kirim Aja Dulu, Hidup Belajar Sambil Jalan
Kalau sekarang kamu lagi nahan sesuatu ide, keputusan, langkah baru, obrolan yang tertunda coba pikir: apa yang sebenarnya kamu takutin? Kesalahan? Penghakiman orang? Atau dirimu sendiri yang terlalu keras sama diri sendiri?
Kalau jawabannya adalah “takut salah”, ya… wajar. Semua orang takut salah.
Tapi ingat, kesalahan itu bukan akhir dari dunia.
Bahkan kesalahan sering jadi pintu masuk ke hal-hal yang lebih baik.
Dan kamu nggak akan pernah tahu kalau tetap milih diam.
Coba bayangin hidupmu 5 tahun ke depan.
Kamu akan lebih bangga sama langkah-langkah kecil yang kamu ambil, bukan pada draft yang nggak pernah kamu kirim.
Kamu belajar jalan bukan dengan teori, tapi dengan jatuh.
Kamu belajar naik sepeda bukan dengan nonton tutorial, tapi dengan goyang-goyang dulu sebelum lancar.
Dan kamu belajar hidup bukan dari hal-hal sempurna, tapi dari kekacauan yang kamu hadapi.
Ada Saatnya Kamu Butuh Berani, Bukan Sempurna
Berani itu bukan berarti nekat tanpa mikir.
Berani itu ketika kamu sadar kamu belum sempurna, tapi tetap jalan.
Ketika kamu tahu kamu bisa salah, tapi tetap mau mencoba.
Ketika kamu sadar dunia nggak menunggu, jadi kamu ambil langkah meski gemeter sedikit.
Dan saat kamu melihat ke belakang nanti, kamu bakal mikir: “Untung dulu aku kirim. Untung aku mulai. Untung aku nggak nunggu sempurna.”
Karena yang paling nyesek dalam hidup bukan kegagalan, tapi momen-momen yang seharusnya bisa jadi cerita, tapi kamu kubur demi terlihat sempurna.
Akhirnya, Hidup Itu Tentang Nyoba, Gagal, Bangkit, dan Ngakak
Nggak semua hal harus berhasil. Nggak semua langkah harus tepat.
Kadang kamu cuma perlu mencoba, dan itu sudah cukup.
Kadang kamu cuma perlu memulai tanpa mikir terlalu dalam.
Kadang kamu cuma perlu percaya bahwa dirimu yang sekarang sudah layak untuk melangkah, meski belum sempurna.
Soalnya kalau kamu terus nunggu semua ideal, hidupmu mungkin cuma akan jadi kumpulan draft yang isinya “nanti aja”, “entah kapan”, “masih kurang”, “belum siap”.
Dan itu sedih banget kalau dipikirin lama-lama.
Jadi, kirim aja dulu. Mulai aja dulu. Jalan aja dulu.
Kesempurnaan itu bukan tujuan, tapi bonus. Yang penting, kamu hidup.
Dan hei… kalau ternyata hasilnya berantakan, ya minimal beberapa tahun lagi kamu bisa ngakak pas nginget-inget: “Gila, dulu gue pernah gitu ya?”
Itu justru yang bikin hidup punya rasa.
