Lucunya Hidup: Yang Nyebelin Hari Ini Bisa Jadi Bahan Tawa Besok
Ada satu hal yang sering banget aku pikirin belakangan ini: kenapa ya, hal-hal yang bikin kita kesel setengah mati hari ini, entah gimana caranya, bisa berubah jadi bahan tawa di masa depan?
Seperti hidup sengaja nge-prank kita, terus bilang, “Sabar ya, nanti kamu ketawa kok.”
Aneh memang.
Tapi kalau ditarik benang merah, manusia memang punya kemampuan aneh untuk menertawakan sesuatu… setelah lewat.
Bukan saat kejadian, bukan saat kita megap-megap nahan emosi, tapi nanti, ketika semuanya udah berlalu dan tinggal jadi cerita.
Dan jujur, semakin ke sini aku makin suka sama proses itu proses berubahnya kekesalan jadi tawa, berubahnya masalah jadi bahan obrolan santai, dan berubahnya momen malu jadi sesuatu yang bisa diceritain sambil cengengesan.
Momen Nyebelin Itu Nyata, Tapi Nggak Selamanya Berat
Salah satu hal yang bikin hidup itu terasa ringan sebenarnya bukan karena masalahnya hilang, tapi karena kita berubah.
Dulu, sedikit hal aja bisa bikin kita tersinggung, tersulut, atau merasa dunia nggak adil banget.
Padahal kadang, yang kita anggap besar itu sebenarnya cuma gelembung kecil yang meledak cepat.
Kayak misalnya kejadian klasik: lagi buru-buru, eh sandal jepit putus.
Atau sudah mandi rapi siap berangkat kerja, eh hujan turun deras seakan dunia konspirasi sama kita.
Atau yang paling menyakitkan tapi lucu kalau dipikir-pikir ketinggalan dompet padahal baru setengah jalan.
Pas kejadian? Kesel. Beneran. Tapi beberapa jam kemudian, atau besoknya, atau minggu depan, kita bisa ketawa sambil cerita ke teman: “Gila ya, masa gue sampai balik lagi cuma gara-gara dompet?!”
Ternyata hal yang nyebelin itu cuma nyebelin ketika kita lagi di tengah-tengahnya. Begitu keluar sedikit, kita bisa ngelihat dari jauh dan sadar, “Nggak segitu parahnya kok.”
Hidup Itu Punya Humor yang Aneh
Aku selalu percaya hidup itu punya sense of humor.
Meski kadang agak jahat, tapi tetap humor.
Ada banyak momen yang kayaknya jelas-jelas dirancang buat jadi komedi situasional.
Contohnya: saat kita lagi pengen banget terlihat cool, biasanya justru saat itu juga kita melakukan hal paling nggak cool.
Tergelincir sedikit. Salah manggil orang.
Atau ngomong sesuatu yang kita pikir masuk akal tapi ternyata konteksnya salah.
Dan itu memalukan, iya. Tapi lucu juga kalau dipikir-pikir sekarang.
Bagian paling menarik adalah kita bisa memilih gimana meresponsnya.
Ada orang yang marah berhari-hari, ada orang yang sedih, ada yang merasa gagal… dan ada yang akhirnya cuma angkat bahu dan bilang, “Yaudah lah, besok juga jadi lucu.”
Dan semakin hidup berjalan, semakin aku sadar: kelompok terakhir inilah yang hidupnya lebih ringan.
Fase yang Paling Sulit Justru Paling Banyak Ceritanya
Ada fase-fase tertentu dalam hidup yang, saat dijalani, rasanya berat banget.
Entah itu kerjaan yang nggak kelar-kelar, hubungan yang nggak jelas arahnya, atau bahkan sekadar hari-hari yang serasa berantakan terus tanpa alasan jelas.
Waktu lagi di dalam fase itu, pikiran kita penuh kadang negatif, kadang lelah, kadang pengen nyerah.
Tapi setelah waktu lewat, banyak bagian dari fase itu yang tiba-tiba berubah jadi cerita yang bisa dibagikan sambil nyengir.
Bukan karena kita menertawakan rasa sakitnya.
Tapi karena kita akhirnya berteman sama rasa itu.
Kita sudah melewatinya, dan kini kita melihatnya dengan perspektif baru.
Perspektif yang lebih dewasa, lebih santai, dan lebih memahami diri sendiri.
Dan lucunya, kadang kita malah jadi kangen fase berantakan itu.
Karena dari situ kita belajar banyak hal yang nggak mungkin muncul dari fase hidup yang terlalu rapi.
Manusia Memang Makhluk yang “Retrospektif”
Salah satu hal paling manusiawi adalah kemampuan untuk melihat ke belakang dan mengubah arti dari pengalaman itu.
Pada saat kejadian, semuanya terasa mentah, emosional, dan berat.
Tapi pelan-pelan, seiring waktu menumpuk, pengalaman itu mulai melembut.
Kita bisa melihatnya dari sudut pandang lain.
Kita mulai sadar bahwa hal-hal yang dulu bikin kita kesel, ternyata ikut membentuk cara kita bertahan sekarang.
Hal-hal yang dulu malu-maluin, malah jadi pelajaran andalan.
Dan hal-hal yang dulu bikin kita tersinggung, sekarang justru bikin kita mengangguk sambil senyum kecil: “Oh, ternyata gue yang kurang santai, ya.”
Retrospektif adalah kemampuan unik itu, melihat masa lalu dengan mata yang lebih dewasa dari mata yang menjalani masa itu. Dan di situlah letak kelucuannya.
Jangan Takut Ketawa Sama Diri Sendiri
Beberapa orang menganggap menertawakan diri sendiri adalah tanda kelemahan.
Tapi menurutku, itu salah satu bentuk kekuatan paling tinggi.
Karena untuk bisa ketawa sama diri sendiri, kita harus cukup jujur, cukup rileks, dan cukup damai dengan siapa kita sebenarnya.
Menertawakan diri sendiri bukan berarti kita meremehkan pengalaman kita.
Tapi justru mengakui bahwa kita manusia kita bisa salah, bisa malu, bisa gagal, bisa kesel. Dan semuanya itu… ya manusiawi banget.
Ketika kita bisa menertawakan diri sendiri, kita menciptakan ruang untuk tumbuh. Kita membuka pintu untuk nggak terlalu keras pada diri sendiri. Dan hidup, pada akhirnya, akan terasa jauh lebih ringan.
Yang Nyebelin Hari Ini, Bisa Jadi Bahan Tawa Besok
Ini adalah kalimat yang aku ulang ke diri sendiri setiap kali ada hal-hal kecil yang bikin naik darah.
Karena benar adanya: sering banget sesuatu yang bikin kita pengen menghilang dari permukaan bumi saat ini, bisa berubah jadi cerita lucu beberapa waktu kemudian.
Hidup itu kayak komedi panjang dengan plot twist random. Kadang kita pemainnya, kadang kita penonton, kadang kita cuma orang yang lewat.
Tapi selalu ada bagian yang, entah cepat atau lambat, berubah jadi lucu kalau kita melihatnya dari jarak waktu yang cukup.
Mungkin itu juga salah satu cara hidup ngajarin kita buat lebih santai.
Bahwa nggak semuanya harus dibawa serius-serius.
Bahwa nggak semua hal yang salah harus merusak hari.
Dan bahwa setiap momen, sekacau apapun, punya potensi untuk jadi kenangan hangat di masa depan.
Jadi ya… kalau hari ini lagi banyak hal yang nyebelin, tarik napas dulu.
Kasih waktu. Karena siapa tahu, besok atau lusa, kamu bakal cerita ini ke teman dan kalian ketawa bareng sampai perut sakit.
Hidup memang ajaib. Dan lucunya, itulah yang bikin dia menarik.
