Sederhana Bukan Berarti Kurang, Kadang Justru Lebih Lepas
Ada fase dalam hidup ketika aku terlalu sibuk ngejar banyak hal sampai lupa, ternyata “cukup” itu bukan soal banyak atau sedikit.
Sering kali cukup itu hadir lewat hal-hal yang sederhana, yang nggak kelihatan wah, yang nggak bikin orang lain kagum, tapi entah kenapa justru bikin hati lebih lepas.
Dan jujur aja, akhir-akhir ini aku lagi sering kepikiran tentang hal itu.
Kita hidup di zaman di mana semuanya serba dipamerin.
Dari pencapaian, barang baru, tempat nongkrong, sampai momen kecil pun rasanya harus banget diupload biar orang lain lihat.
Kayak kita nggak boleh ketinggalan.
Kalau orang lain naik level, kita juga harus ikut.
Kalau orang lain rajin upgrade hidup, kita juga harus punya sesuatu buat diceritain.
Tapi makin ke sini, aku makin sadar bahwa simpel itu bukan kekurangan.
Sederhana itu bukan fallback untuk orang yang nggak mampu, nggak berhasil, atau nggak punya pilihan.
Kadang justru kesederhanaan itu keputusan paling dewasa yang bisa bikin hidup lebih lega.
Kesederhanaan itu Soal Ruang Bernapas
Hal-hal yang sederhana sering ngasih ruang kosong dalam hidup kita.
Ruang buat mikir. Ruang buat bernapas. Ruang buat meresapi. Ruang yang nggak penuh tuntutan.
Kayak kamar rapi yang cuma berisi barang yang benar-benar kita butuhkan nggak mewah, tapi tenang.
Dan ruang bernapas itu penting banget.
Karena tanpa sadar, banyak dari kita hidup kayak tab browser yang kebanyakan terbuka.
Semua ada notifnya, semua minta perhatian, semua mau diselesaikan.
Hingga akhirnya kita capek sendiri, tapi tetap merasa bersalah kalau berhenti.
Kesederhanaan mengajarkan kita bahwa berhenti itu bukan dosa.
Pelan-pelan itu bukan kalah. Ngelonggarin hidup justru bisa bikin kita lebih jernih ngeliat arah.
Hal Sederhana yang Sering Kita Remehkan
Ada hal-hal yang dulu aku anggap “sepele”.
Tapi ternyata justru itu yang bikin hidup terasa lebih manusiawi.
Misalnya:
Duduk sendirian sambil minum kopi murah di teras rumah.
Jalan sore tanpa tujuan yang jelas.
Ngobrol pelan dengan orang terdekat tanpa drama.
Makan makanan biasa yang bikin nyaman.
Tidur tanpa mikirin apa-apa.
Hari di mana nggak ada yang minta apa pun dari kita.
Hal-hal kayak gitu mungkin nggak worthy buat diposting, tapi memberi rasa damai yang susah diganti.
Dan ironisnya, damai itu sering datang justru dari hal-hal yang nggak punya nilai jual di media sosial.
Kita cuma perlu nyadar kalau nggak semua hal harus terlihat besar untuk terasa berarti.
Sederhana Itu Nggak Sama dengan Kurang
Kadang orang salah paham.
Mereka mikir kesederhanaan berarti kekurangan.
Padahal beda banget.
Kekurangan itu soal tidak punya.
Kesederhanaan itu soal memilih.
Pilihan untuk nggak mengikat diri dengan hal yang tidak perlu.
Pilihan untuk nggak menambah beban hanya demi terlihat mengikuti tren.
Ada orang yang hidup sederhana bukan karena nggak bisa lebih, tapi karena tahu prioritasnya ada di tempat lain.
Dan itu justru bikin hidup lebih ringan.
Nggak kebanyakan kompromi, nggak kebanyakan jaga image, nggak kebanyakan takut tertinggal.
Kalau dipikir-pikir, semakin kita dewasa, semakin kita sadar bahwa banyak hal yang kita kejar dulu itu sebenarnya cuma “noise”.
Bukan kebutuhan, cuma rasa ingin terlihat cukup.
Dan itu capek banget kalau diteruskan.
Kesederhanaan yang Mengantar ke Kejujuran Diri
Aku perhatiin, ketika hidup lebih sederhana, kita juga jadi lebih jujur sama diri sendiri.
Kita nggak merasa perlu pura-pura kuat.
Kita nggak maksa diri tampil selalu oke.
Kita bisa bilang, “Aku capek,” tanpa merasa gagal.
Kesederhanaan bikin kita sadar bahwa diri kita yang apa adanya pun sudah cukup.
Nggak perlu selalu berada di garis depan.
Nggak harus selalu punya pencapaian terbaru.
Nggak harus jadi pusat perhatian.
Dan lucunya, ketika kita berhenti mengejar validasi, kita justru lebih mudah nemu hal-hal yang benar-benar bikin bahagia.
Bahagia tanpa banding-banding. Bahagia tanpa penonton.
Melonggarkan Hidup adalah Bentuk Merawat Diri
Kadang kita mau hidup lebih simple tapi takut dianggap “menurun”, “nggak berkembang”, atau “nggak punya ambisi”.
Padahal, siapa juga yang menyuruh ambisi harus selalu berisik?
Ada ambisi yang damai, tenang, tapi tetap jalan.
Hidup sederhana bukan berarti nggak punya mimpi. Justru kesederhanaan bikin mimpi itu lebih fokus.
Nggak bercabang ke mana-mana.
Nggak terseret ekspektasi orang lain.
Melonggarkan hidup itu cara kita bilang ke diri sendiri: “Aku tetap maju, tapi sambil bernapas. Aku tetap punya tujuan, tapi nggak harus terburu-buru.”
Bahkan, kesederhanaan ini sering kali bikin kita lebih kuat.
Karena kita tahu apa yang penting, apa yang nggak.
Kita tahu mana yang harus dipegang, mana yang cukup dibiarkan lewat.
Simpel Bukan Berarti Dangkal
Banyak orang salah paham bahwa hal-hal simpel itu dangkal.
Padahal, justru di balik kesederhanaan sering ada kebijaksanaan yang dalam.
Orang-orang yang hidupnya sederhana sering kali punya hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih.
Mereka tahu kapan harus melepas.
Mereka tahu apa yang bisa dikontrol.
Mereka nggak sibuk mikirin hal-hal yang cuma nguras tenaga tanpa manfaat.
Dan yang paling penting, mereka biasanya lebih menghargai hal-hal kecil.
Karena bagi mereka, kebahagiaan bukan soal banyaknya, tapi soal rasanya.
Kesederhanaan Membuat Kita Lebih Mudah Merasa Cukup
Cukup itu perasaan mahal.
Banyak orang punya banyak hal, tapi jarang merasa cukup.
Ironis banget.
Dan sering kali, yang bikin kita sulit merasa cukup bukan karena kurang, tapi karena terlalu banyak urusan.
Ketika hidup lebih simpel, standar “bahagia” dan “cukup” juga jadi lebih realistis.
Kita jadi gampang bersyukur.
Gampang merasa lega.
Gampang merasa bahwa hari ini pun sudah baik.
Dan yang paling lucu, hal-hal yang dulunya kita anggap kecil, justru sekarang terasa sebagai hadiah.
Ternyata hidup nggak serumit itu.
Ternyata hidup bisa sesederhana itu.
Penutup: Sederhana Itu Pilihan yang Membebaskan
Pada akhirnya, hidup sederhana itu bukan tentang menurunkan kualitas hidup.
Justru sebaliknya.
Kita menurunkan beban biar kualitas hidup naik.
Kita mengurangi ribut-ribut yang nggak perlu biar hati lebih lega.
Sederhana bukan berarti kurang.
Sederhana itu tentang memilih mana yang penting dan mana yang cuma gangguan.
Tentang memberi ruang untuk bernapas, berpikir, merasakan.
Tentang percaya bahwa hidup yang pelan itu bukan hidup yang tertinggal.
Kadang yang paling bikin bahagia justru hal-hal yang nggak ribut, nggak berisik, nggak penuh drama.
Yang sederhana. Yang apa adanya. Yang nggak perlu pembuktian.
Dan mungkin, di titik tertentu, kita akan sadar bahwa kesederhanaan bukan berarti kita punya lebih sedikit, tapi kita kehilangan lebih sedikit.
Kehilangan stres. Kehilangan beban pikiran. Kehilangan keperluan buat selalu terlihat lebih.
Hidup sederhana itu bukan downgrade. Tapi upgrade yang kita lakukan dari dalam.
