Overthinking Itu Olahraga Otak, Hasilnya Tetap Sama Aja
Pernah nggak sih kamu capek… tapi capeknya bukan di badan? Tidur cukup, makan oke, kerja nggak terlalu berat, tapi kepala rasanya kayak habis lari maraton.
Isinya muter terus. Ngulang kejadian yang sama. Ngira-ngira kemungkinan yang belum tentu kejadian. Ngomel sama diri sendiri atas hal-hal yang bahkan sudah lewat.
Kalau iya, selamat datang di klub. Klub orang-orang yang sering tanpa sadar menjadikan overthinking sebagai olahraga otak. Sayangnya, meski capeknya luar biasa, hasilnya sering… ya gitu-gitu aja.
Tulisan ini bukan buat menghakimi. Bukan juga ceramah supaya “udah, jangan mikir”. Karena kita sama-sama tahu, kalimat itu nggak pernah benar-benar membantu.
Ini obrolan santai. Tentang overthinking, tentang kenapa kita melakukannya, dan bagaimana pelan-pelan belajar berhenti tanpa harus membenci diri sendiri.
Apa Sih Overthinking Itu, Sebenarnya?
Secara sederhana, overthinking adalah kondisi ketika pikiran kita bekerja berlebihan tanpa menghasilkan keputusan atau solusi yang nyata.
Beda dengan mikir matang. Mikir matang itu ada ujungnya. Overthinking? Biasanya cuma muter di tempat.
Contohnya:
- Ngulang-ngulang obrolan yang sudah lewat
- Menganalisis ekspresi orang lain berlebihan
- Membayangkan skenario terburuk berkali-kali
- Menyalahkan diri sendiri atas hal yang belum tentu salah
Ironisnya, makin dipikir, makin capek. Makin capek, makin susah berhenti.
Kenapa Kita Sering Overthinking?
Banyak yang mengira overthinking itu tanda orang kurang bersyukur atau kurang sibuk. Padahal, sering kali justru sebaliknya.
Overthinking sering muncul karena:
- Kita terlalu peduli
- Kita takut membuat kesalahan
- Kita ingin semuanya berjalan sempurna
- Kita ingin mengontrol hasil
Di balik overthinking, biasanya ada niat baik: ingin aman, ingin benar, ingin tidak melukai siapa pun, termasuk diri sendiri.
Masalahnya, hidup tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Dan di situlah pikiran mulai kelelahan.
Overthinking Itu Melelahkan, Tapi Terasa Produktif
Ini bagian yang sering menjebak.
Overthinking memberi ilusi seolah kita sedang melakukan sesuatu. Padahal, yang bergerak cuma pikiran, bukan langkah.
Kita merasa, “Kalau aku mikirin ini terus, aku bakal siap.”
Padahal kenyataannya, banyak hal dalam hidup yang tetap berjalan di luar kendali, seberapa pun kerasnya kita berpikir.
Makanya cocok banget dibilang: overthinking itu olahraga otak, hasilnya tetap sama aja. Capek iya. Bergerak? Nggak selalu.
Skenario Terburuk yang Jarang Jadi Nyata
Coba jujur ke diri sendiri.
Dari semua skenario buruk yang pernah kamu bayangkan, berapa persen yang benar-benar kejadian?
Biasanya sedikit. Atau bahkan nggak sama sekali.
Tapi anehnya, otak kita tetap hobi menyiapkan yang terburuk, seolah-olah itu cara melindungi diri.
Padahal sering kali, yang paling menyiksa bukan kejadian nyatanya, tapi bayangan di kepala kita.
Overthinking dan Perfeksionisme
Overthinking sering akrab dengan perfeksionisme.
Keinginan untuk melakukan segalanya dengan benar membuat kita sulit menerima kemungkinan salah.
Akhirnya, sebelum melangkah, kita berpikir terlalu jauh.
Takut salah ngomong. Takut salah ambil keputusan. Takut dinilai. Takut mengecewakan.
Dan di tengah semua ketakutan itu, kita malah diam.
Saat Overthinking Mulai Mengganggu Hidup
Overthinking jadi masalah ketika mulai:
- Mengganggu tidur
- Menguras energi emosional
- Membuat kita ragu mengambil keputusan kecil
- Mengurangi rasa percaya diri
Di titik ini, penting untuk berhenti menyalahkan diri sendiri.
Overthinking bukan tanda kamu lemah. Sering kali, itu tanda kamu terlalu keras pada diri sendiri.
Belajar Membedakan: Mana yang Bisa Dikontrol, Mana yang Tidak
Salah satu latihan paling membantu adalah ini: memilah.
Tanya ke diri sendiri:
- Apakah ini dalam kendaliku?
- Apakah ini sesuatu yang bisa aku lakukan sekarang?
Kalau jawabannya tidak, maka menghabiskan energi untuk memikirkannya hanya akan melelahkan.
Bukan berarti kita cuek. Tapi kita sadar batas.
Cara Sederhana Mengurangi Overthinking
Tidak ada solusi instan. Tapi ada langkah-langkah kecil yang bisa membantu:
- Tuliskan isi kepala, jangan simpan semua di pikiran
- Beri batas waktu untuk berpikir, lalu berhenti
- Alihkan ke aktivitas fisik ringan
- Latih diri untuk hadir di momen sekarang
Kadang, pikiran tidak butuh jawaban, tapi jeda.
Berhenti Overthinking Bukan Berarti Jadi Ceroboh
Ini miskonsepsi yang sering muncul.
Berhenti overthinking bukan berarti hidup asal-asalan.
Itu berarti kita percaya bahwa kita bisa menghadapi apa pun saat itu benar-benar datang.
Bukan menyiapkan semua kemungkinan di kepala, tapi memperkuat diri untuk beradaptasi.
Berdamai dengan Pikiran Sendiri
Pikiran itu seperti teman cerewet. Kalau dilawan terus, dia makin keras.
Tapi kalau didengar secukupnya, lalu dilepas, dia akan pelan-pelan tenang.
Berdamai dengan pikiran bukan berarti mengikuti semua isinya, tapi tidak memeranginya setiap saat.
Penutup: Capek Boleh, Terjebak Jangan
Kalau kamu sering overthinking, bukan berarti kamu rusak.
Berarti kamu manusia. Yang peduli. Yang ingin hidupnya baik-baik saja.
Tapi ingat satu hal: overthinking itu olahraga otak, hasilnya tetap sama aja.
Capek boleh. Berpikir boleh.
Tapi hidup tetap perlu dijalani, bukan cuma dipikirkan.
Sekarang saya mau ajak kamu refleksi: hal apa yang akhir-akhir ini paling sering kamu overthinking-kan? Dan apa satu langkah kecil yang bisa kamu lakukan hari ini, tanpa harus menunggu semuanya jelas?
Kalau mau, ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu, ceritamu bisa bikin orang lain merasa, “Oh, ternyata aku nggak sendirian.”
