jWySnXSOiSNp62TYu6mfgWzHJ85FbojSrxRGMNPP
Favorit

Fenomena Proyek Tambal Jalan Raya dan Pertanyaan tentang Efektivitas Anggaran

Proyek tambal jalan raya sering berulang dan cepat rusak. Artikel reflektif ini membahas dampak, anggaran, dan harapan akan perbaikan yang lebih awet.

Setiap kali melewati jalan yang baru saja ditambal, perasaan saya sering kali campur aduk. Harusnya lega, karena jalan berlubang sudah diperbaiki. Tapi entah kenapa, yang muncul justru rasa déjà vu. Seolah saya sudah tahu akhir ceritanya. Beberapa minggu ke depan, tambalan itu akan retak, mengelupas, lalu kembali jadi lubang kecil yang perlahan membesar. Dan siklus itu terulang lagi, dan lagi.

Fenomena proyek tambal jalan ini rasanya begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Hampir semua orang yang rutin berkendara pasti pernah mengalaminya. Jalan ditambal, rusak lagi, ditambal lagi. Lama-lama bukan cuma jalan yang aus, tapi juga rasa sabar kita sebagai pengguna.

Pengalaman Sehari-hari yang Bikin Kita Mengangguk

Coba ingat-ingat, mungkin kamu juga pernah melewati jalan yang tambalannya masih terlihat “segar”. Warnanya beda, teksturnya terasa baru. Tapi belum genap satu atau dua bulan, permukaannya mulai bergelombang. Saat hujan, air menggenang. Saat panas, aspalnya retak.

Di titik ini, rasa lelah mulai muncul. Bukan karena jalannya rusak, tapi karena polanya terasa berulang dan bisa ditebak. Kita jadi bertanya dalam hati, “Kok bisa sih, selalu seperti ini?”

Pengalaman seperti ini bukan kejadian satu dua orang. Ini pengalaman kolektif. Dan justru karena itu, topik proyek tambal jalan layak dibicarakan lebih dalam.

Fenomena Tambal Sulam yang Selalu Ada

Kalau diamati lebih jauh, proyek tambal jalan bukan kejadian tunggal. Ia muncul sebagai pola. Hari ini ditambal di satu titik, besok rusak di titik lain. Tahun ini diperbaiki, tahun depan muncul masalah serupa.

Bahkan, di beberapa daerah, proyek ini terasa musiman. Menjelang akhir tahun anggaran, jalan-jalan mulai “ramai” diperbaiki. Seolah proyek jalan tidak pernah benar-benar selesai, hanya berpindah dari satu lubang ke lubang lain.

Di sinilah kita mulai sadar, bahwa ini bukan sekadar soal aspal atau cuaca. Ada sesuatu yang lebih sistemik. Ada pola kerja yang terus diulang, meski hasilnya tidak banyak berubah.

Pertanyaan Kunci: Kenapa Tidak Sekalian Dibuat Bagus?

Ini mungkin pertanyaan paling sederhana, tapi juga paling jujur: kenapa tidak sekalian dibuat bagus?

Kenapa kualitas sering kali terasa dikorbankan demi kecepatan? Kenapa solusi jangka pendek lebih sering dipilih dibanding perbaikan yang menyeluruh? Apakah masalahnya di anggaran, perencanaan, atau pelaksanaannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus bernada menuduh. Justru sebaliknya, ia lahir dari rasa ingin tahu dan kepedulian. Sebagai warga biasa, kita hanya ingin jalan yang masuk akal: aman, awet, dan tidak cepat rusak.

Dampak Langsung ke Masyarakat

Proyek tambal jalan bukan cuma soal estetika atau kenyamanan. Dampaknya nyata dan langsung terasa.

  • Keselamatan pengendara: Jalan berlubang atau tambalan yang tidak rata bisa memicu kecelakaan.
  • Kerusakan kendaraan: Ban, velg, hingga suspensi jadi korban.
  • Waktu dan energi terbuang: Macet, harus melambat, atau mencari jalur alternatif.
  • Emosi: Dari jengkel, capek, sampai pasrah.

Hal-hal kecil ini jika dikumpulkan, dampaknya besar. Bukan cuma ke individu, tapi ke produktivitas dan kualitas hidup secara umum.

Isu Anggaran Negara dan Uang Publik

Bagian ini memang sensitif, tapi tidak bisa dihindari. Jalan raya dibangun dari uang publik. Dari pajak yang kita bayarkan, langsung atau tidak langsung.

Ketika proyek tambal jalan dilakukan berulang kali di titik yang sama, muncul pertanyaan soal efektivitas. Proyek berulang berarti biaya berulang. Dan sering kali, yang terlihat murah di awal justru jadi mahal di belakang.

Di sini, fokusnya bukan mencari siapa yang salah, tapi bagaimana agar anggaran bisa digunakan lebih efektif. Karena setiap rupiah yang dikeluarkan idealnya memberi manfaat jangka panjang.

Tambal Sulam vs Perbaikan Jangka Panjang

Tambal sulam sebenarnya tidak selalu salah. Dalam kondisi darurat, ia bisa jadi solusi cepat. Tapi jika terus-menerus dijadikan pilihan utama, hasilnya ya seperti yang kita lihat sekarang.

Perbaikan jangka panjang memang butuh biaya lebih besar di awal. Tapi jalan berkualitas biasanya lebih awet, minim perawatan, dan lebih aman.

Ibaratnya begini: membeli sepatu murah berkali-kali karena cepat rusak, atau membeli satu sepatu bagus yang tahan bertahun-tahun. Mana yang sebenarnya lebih hemat?

Perspektif Perencanaan dan Keberlanjutan

Pembangunan jalan seharusnya tidak hanya memikirkan hari ini, tapi juga lima atau sepuluh tahun ke depan. Perencanaan matang, kualitas material, dan pemeliharaan rutin adalah kunci.

Keberlanjutan bukan sekadar jargon. Ia berarti memikirkan dampak jangka panjang, baik dari sisi ekonomi, keselamatan, maupun lingkungan.

Dengan pendekatan seperti ini, proyek jalan tidak lagi terasa seperti pekerjaan tanpa ujung, tapi investasi jangka panjang.

Refleksi dari Warga Biasa

Saya menulis ini bukan sebagai ahli infrastruktur, tapi sebagai pengguna jalan. Sebagai warga biasa. Sebagai pembayar pajak.

Kami tidak menuntut jalan yang sempurna tanpa cacat. Kami hanya berharap jalan yang awet, aman, dan masuk akal. Jalan yang tidak membuat kita bertanya-tanya setiap beberapa bulan sekali.

Ajakan Berpikir Bersama

Fenomena proyek tambal jalan raya ini mungkin sudah terlalu akrab, sampai kita menganggapnya wajar. Tapi justru di situlah masalahnya. Sesuatu yang terus berulang dan merugikan seharusnya mengundang pertanyaan.

Bukan untuk marah, bukan untuk menuduh. Tapi untuk berpikir bersama. Bagaimana caranya agar pembangunan jalan benar-benar memberi manfaat jangka panjang? Bagaimana agar anggaran publik digunakan lebih efektif?

Bukan untuk mengeluh, tapi untuk berharap. Semoga ke depan, kita tidak lagi merasa déjà vu setiap melihat jalan yang baru ditambal.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.


Posting Komentar
Boleh banget tinggalin komentar di bawah. Kalau mau dapet kabar tiap ada yang bales, tinggal centang aja kotak “Beri Tahu Saya”. Simpel banget.