jWySnXSOiSNp62TYu6mfgWzHJ85FbojSrxRGMNPP
Favorit

Ada yang Terlihat Diam, Padahal Lagi Debat Sama Dirinya Sendiri

Kadang ada yang terlihat diam, padahal hatinya ramai penuh debat dengan dirinya sendiri. Sebuah refleksi tentang pikiran yang tak selalu tampak.

Kadang aku ngeliat seseorang duduk tenang di pojokan entah di minimarket, halte, atau ruang tunggu dan aku selalu punya firasat kalau orang seperti itu nggak benar-benar “diam”.

Mereka cuma nggak bersuara, tapi kepalanya mungkin lagi kayak rapat organisasi yang lupa kapan harus bubar. Jujur aja, aku relate banget.

Diam itu bukan berarti kosong. Kadang malah kebalikannya: kita diam karena pikiran lagi terlalu penuh.

Ada orang yang kalau gelisah kedengeran jelas: mondar-mandir, nafasnya berubah, gerakannya nggak tenang.

Tapi ada juga yang versi gelisahnya itu justru… hening. Di luar calm, di dalam chaos.

Mungkin dia lagi bingung ambil keputusan. Mungkin lagi nyusun kalimat untuk sesuatu yang nggak pernah benar-benar bisa disampaikan.

Atau mungkin cuma lagi bertanya ke diri sendiri, “Kenapa sih aku begini?”

Senyap yang Sebenarnya Ramai

Aku selalu percaya kalau kepala manusia itu tempat paling ribut di dunia, tapi keributannya canggih: nggak ada suara, tapi berisiknya bisa bikin nggak tidur.

Ada yang dari luar kelihatan anteng cuma karena dia udah terlalu capek buat nanggepin semuanya.

Atau mungkin karena dia lebih nyaman ribut sama dirinya sendiri daripada ribut sama orang lain.

Kadang, ketika seseorang terlihat diam, sebenarnya dia lagi menggelar debat besar.

Debat tentang pilihan hidup, tentang hal-hal yang disesali, tentang apa yang sebenarnya diinginkan.

Dan uniknya, semua kubu itu ada di dirinya sendiri. Lucunya lagi, nggak ada yang jadi moderator. Makanya kacau.

Ada hari-hari di mana aku juga kaya gitu.

Duduk sambil lihat ke satu titik, tapi yang kulihat sebenarnya potongan-potongan kejadian yang numpuk kayak tab Chrome yang nggak pernah ditutup.

Kadang aku ngerasa kayak karakter utama dalam film yang lagi merenung, padahal kenyataannya aku cuma kecapekan.

Tapi tetap aja, kepala ini seolah punya energi cadangan khusus untuk overthinking.

Diam Itu Bukan Tidak Peduli

Sering banget orang salah paham sama yang suka diam.

Dikiranya jutek, dikira cuek, dikira nggak paham.

Padahal kalau dia buka suara, ada kemungkinan dia bakal kebanyakan cerita sampai bingung mau berhenti di mana.

Bukan karena dia suka drama, tapi karena dia terlalu sering ngumpetin hal-hal yang nggak semua orang siap dengar.

Ada orang yang diam karena takut salah ngomong.

Ada yang diam karena lagi nyoba memahami dirinya sendiri dulu sebelum memahami orang lain.

Ada juga yang diam karena dia tahu, kalau dia ngomong, emosinya bisa tumpah. Jadi dia tahan, dia jeda, dia tarik napas.

Karena kadang kedewasaan itu bentuknya bukan selalu berani bicara, tapi berani berhenti sebentar dan mikir dulu.

Aku pernah ada di fase di mana orang-orang kira aku “nggak peduli”.

Padahal aku peduli banget.

Cuma aku butuh waktu buat ngatur pikiran biar nggak saling dorong-dorongan di dalam.

Rasanya kayak buka WhatsApp tapi pesannya numpuk, dan kita harus milih mana yang dibalas duluan. Kalau salah pilih, bisa kacau. Jadi ya… diam itu pilihan aman.

Perang Kecil yang Gak Kelihatan

Kalau ada teknologi yang bisa nampilin isi pikiran orang dalam bentuk subtitle, mungkin dunia bakal lebih damai.

Atau malah makin rame, nggak tahu juga.

Tapi yang jelas, kita jadi bisa ngerti siapa yang sedang berjuang tanpa terlihat.

Ada yang lagi debat karena harus mutusin: tetap bertahan atau pergi.

Ada yang lagi evaluasi: apa yang salah dari dirinya, dan apa yang harus diperbaiki.

Ada yang lagi mencoba menghibur hati sendiri sambil bilang, “Gak apa-apa kok, kamu udah kuat sejauh ini.” Ada juga yang sekadar mikir, “Besok sarapan apa ya?” karena nggak semua overthinking itu deep. Kadang receh juga.

Salah satu debat terbesar dalam hidupku itu biasanya tentang pilihan yang nggak pernah jelas mana benar atau salah.

Hidup kan seringnya gitu: butuh keputusan, tapi petunjuknya minim.

Dan di momen-momen itu, diam terasa kayak tempat aman.

Tempat buat mikir tanpa harus menjelaskan ke siapa pun.

Menghargai yang Terlihat Tenang

Seiring waktu aku belajar: orang yang terlihat tenang belum tentu sedang baik-baik saja.

Dan orang yang terlihat cuek belum tentu nggak ngerasa apa-apa.

Kita nggak pernah tahu seberapa besar badai yang sedang ditahan seseorang, hanya karena dia milih diam.

Makanya aku selalu ngerasa setiap orang pantas dihargai ruangnya.

Kita nggak perlu maksa orang cerita ketika dia belum siap.

Kita juga nggak perlu mengomentari seseorang yang kelihatan pendiam, seolah itu kekurangan.

Karena jujur aja, kadang pendiam itu justru orang yang paling dalam cara berpikirnya.

Ada hal-hal yang nggak perlu diumbar.

Ada luka yang lebih nyaman dirawat dengan ketenangan.

Dan ada jawaban-jawaban yang hanya bisa ditemukan dalam keheningan.

Kalau kamu salah satu yang sering debat sama diri sendiri, hey, itu bukan kelemahan.

Justru itu tandanya kamu peduli sama apa yang kamu lakukan, kamu mau ngambil keputusan dengan hati-hati.

Kamu cuma lagi ngobrol sama diri sendiri, dan itu salah satu bentuk self-awareness yang keren.

Dan kalau kamu sedang diam sekarang, mungkin kamu lagi menyusun sesuatu yang penting.

Mungkin pikiranmu lagi sibuk membuka lembar-lembar kehidupan yang kadang terasa terlalu tebal buat dilihat sekali baca.

Nggak apa-apa. Ambil waktu kamu. Hening bukan dosa.

Penutup: Diam yang Punya Cerita

Pada akhirnya, aku belajar bahwa setiap orang membawa ceritanya sendiri dalam keheningan.

Ada yang terlihat diam, tapi di dalamnya sedang berperang, berdamai, menganalisis, atau bahkan menghibur diri.

Keheningan bukan tanda kosong. Keheningan itu ruang.

Jadi kalau kamu lihat seseorang tampak diam, jangan buru-buru menilai.

Bisa jadi dia sedang melakukan hal paling manusiawi: ngobrol sama dirinya sendiri, nyari jawaban, dan berusaha tetap waras dalam dunia yang kadang terlalu ribut.

Dan kalau kamu yang lagi diam sekarang aku cuma mau bilang: semoga debat dalam dirimu menemukan titik damai. Pelan-pelan aja. Kamu nggak sendirian.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.


Posting Komentar
Boleh banget tinggalin komentar di bawah. Kalau mau dapet kabar tiap ada yang bales, tinggal centang aja kotak “Beri Tahu Saya”. Simpel banget.